Gayo. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pages

Jadian di Lapangan Basket - 1

Beberapa minggu yang lalu aku menyatakan cinta ku pada seorang gadis. Sialnya aku ditolak. Hahaha mungkin terlalu cepat, dia memang tidak menolak secara langsung, mungkin aku yang terlalu cepat untuk jatuh hati. Sampai hari ini aku masih mendekatinya, mencoba mengenalnya lebih jauh.

Mungkin ini inginnya perempuan, ingin saling mengenal. Bagiku jika sudah pas dihati ayolah jadian saja. Sebenarnya tidak begitu, aku memang sempat menyukai beberapa gadis tapi aku tak pernah seyakin ini untuk menjadikannya kekasih ku. Sampai saat ini aku masih mendekatinya aku ingin memberitahunya bahwa penolakkannya kemarin bukan alasan ku untuk mundur. “Van, move on Van, ngga malu lo ditolak?” selalu begitu kawan-kawan ku meledek seolah penolakan adalah alasan untuk mundur. “Sorry bro, menurut gue kalau sayang mah harusnya elo kejar bukan nyerah.” Balas ku pada mereka yang terus saja mengejekku. “Van, Ivan… doi itu masih belum bisa lupain mantannya. Udahlah percuma tau, kasian tuh hati lo sedih mulu, pasti lo dicurhatin mantannya teruskan. Hahahaha” galak tawa mereka membisingkan kepalaku. 

Pernah sekali-kali aku mencoba melupakannya, mencoba menjauh dan menghilang dari pandangannya ketika aku tak bisa lagi menahan cemburuku mendengar cerita tentang mantan kekasihnya. Ingin sekali aku menjerit “Akupun MENCINTAIMU Sya!!!” namun hanya dalam hati. Semakin aku mencoba menjauh malah semakin sakit hati ku jika tak tahu sehari saja kabarnya. Aku sedang berjuang untuk menjadi sahabat terbaiknya sebelum aku bisa memiliki hatinya. 

Sore hari yang sejuk dan tidak terlalu panas, aku putuskan untuk bermain basket dilapangan dekat rumah. Tak ada orang, aku sendirian, tak masalah aku tetap bermain. “Hey Van, sendirian lo? Boleh ikut main?” Masya rupanya, gadis cantik yang sedang bertahta dihati ku namun hanya menganggapku teman. “Hey Sya, sinilah. Dari mana lo?” “Iya, abis muter-muter sekitar sini doang. Sepi banget yaa..” aku berbincang dengannya sambil bermain basket, kami memang sama-sama pemain basket di kampus jadi tak terlalu canggung untuk one by one dengannya. 

“Nih minumnya Van,” katanya sambil memberikan sebotol air minum yang dibawanya. “Thanks Sya, persiapan banget si lo,” jawabku, kami istirahat berdua dipinggir lapangan “iyalah, emang elo, bawa badan doang hahahaa” katanya meledek, “Enak aja, gue bawa bola, lo juga pake.” “Iya..iya, engga mau debat deh.” Yah dia nyerah. Cantik sekali dia, keringat itu seperti menjadi hiasan sendiri di wajahnya. “Hoy, liatin apa lo?” “Lo cantik Sya, kapan lo jadi pacar gue?” tanpa sadar pertanyaan itu keluar dari mulutku. “Hahaha, lo nya aja ngga pernah nembak.” Jawabnya singkat, ternyata dia tidak marah. “Gue pernah nembak, tapi lo nolak gue, lo bilang kecepetan.”. “Ya udah,.. “ jawabnya singkat sambil bangun dan bermain basket sendiri. “Maksud lo gue harus nembak lo lagi?” aku berlari menyusul dia ditengah lapangan, “Sya, atas nama hati gue, lapangan basket, bola basket dan semua point yang udah gue cetak, gue mau jujur gue sayang sama lo Sya, engga peduli seberapa sakit lo sering curhat tentang mantan lo, engga peduli seberapa lelah gue bersabar, kalau gue memang harus mengulang pertanyaan maka demi semua perjuangan gue: Gue sayang lo Masya, apa lo mau jadi pacar gue?”. Aku berdiri didepannya, masih memegang tangannya, dia diam,. 10 detik dia masih diam, kami saling bertatapan, detik ke 15 dia tersenyum dai melepaskan tangan ku dan berlari. Dia mengambil bola lalu kembali ke arahku. “Lo kan jago shoot Van, gue minta 4 kali shoot three point berturut-turut Van, kalau lo bisa kita jadian.” Aku kaget dengan tantangannya, aku ingat ini tanggal 4 bulan April mungkin itu tujuannya. “Kalau gue ngga bisa Sya?” “Gue engga mau jadi pacar lo, ahh ini kan gampang buat lo, ayo berjuang. Anggap aja ini perjuangan terakhir, gue kasih lo latihan dulu dua kali shoot deh, buruan.”. Aku gemetar, tangan ku seolah kaku, mengapa tangan ini seolah tak ijinkan aku menang? Aku takut sekali, rasanya lebih mengerikan dibandingkan aku harus menghadapi pertandingan tersulitku. 

Aku mulai dengan tembakan pertama, gagal. Latihan tinggal sekali lagi, latihan kedua pun gagal. Aku masuk pada babak penentuan, “Ayo Van, gue juga sayang sama lo kok, lo kelamaan si nembaknya, jadi gue kasih tantangan ini. Cepet, keburu malem,” teriaknya. Aku melihat jam tangan, “Baru jam 4 kurang dua menit Sya,” Aku dengan penuh keyakinan mencoba tembakan pertama. “Yes.. masuk” Dia mengambilkan bolaku. Bola ke empat yang aku lempar berputar seolah akan keluar, aku khawatir sekali, namun akhirnya. “Yes, lo jadian sama gue Sya..” aku berlari ingin memeluknya, namun ia menghindar. “Kenapa?” tanyaku. “Selamat ya,” dia menyalamiku, “Aku pulang ya,” Aku? Kok berubah, tapi kenapa dia pulang? “Sya, ada yang salah?” dia berlari pergi, apa maksudnya ini? Mengapa aku merasa dipermainkan. 

“Cepat pulang, apa kamu ngga mau rayakan hari ini? Aku menunggu mu menjemputku malam ini, aku harap kamu sudah pikirkan perayaan ini.” Itu pesan darinya lewat SMS, aku bersemangat sekali untuk pulang dan mempersiapkan semuanya. Akhirnya cintaku terbalaskan, mungkin aku memang perhatian padanya, namun mungkin saja kepekaan ku yang kurang ku perhatikan. Terimakasih lapangan basket, kamu mempersatukan cintaku. 04 April 2015 - 04.04 WIB.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar